Sabtu, 25 Februari 2012

conroh resensi

Unit Terkecil Dari Makhluk Hidup
Judul buku                   : Biologi Untuk SMA Kelas XI
Pengarang                   : D.A. Pratiwi, Sri Maryati, Srikini, Suharno, Bambang S.
Penerbit                      : Erlangga.
Tahun Terbit               : 2006
JUmlah Halaman        : 282 halaman.
ISBN                             : 979-787-727-X
Harga                          : Rp 51.200
Semua orgsnisme tersusun atas sel-sel. Sel merupakan unit terkecil dari suatu bentuk kehidupan. Sel seperti sebuah pabrik yang terus bekerja, agar proses kehidupan terus berlangsung. Dan sel memiliki bagian – bagian penting untuk menunjang fungsi tersebut.
Didalam sel terdapat protoplasma yang terdiri dari : karbohidrat, lemak, Protein, dan asam nukleat sel dapat dibedakan menjadi 2 yaitu prokariotik dan eukariotik.
Bagian dari sel meliputi membran plasma, nukleus dan sitoplasma. Transpor melalui membran dapat berlangsung secara pasif melalui difusi dan osmosis. Dalam nukleoplasma terdapat kromosom. Pada nucleus terdapat nucleolus yang fungsinya menyintesis ribosom. Nukleolus berfungsi mengendalikan aktivitas sel.
Dalam sitoplasma mengandung organel – organel sel, seperti : retikulum endoplasma, ribosom badan golgi, lisosom, mitokondria, dan plastida yang terdapat pada tumbuhan.
Dari uraian diatas bahwa buku karangan D.A.Pratiwi dkk. Mudah untuk dipahami, bahasanya pun tidak bertele – tele khususnya untuk para pelajar SMA. Tetapi disamping itu tidak ada variasi warna dalam gambar yang seperti aslinya. Sehinga kurang menarik. Dan harganya juga relatif mahal.
Buku ini layak  digunakan sebagai buku pegangan pelajar. Karena materi yang disampaikan cukup terperinci. Dan buku ini juga mengandung banyak informasi yang penting bagi para pelajar. Oleh sebab itu pantaslah jika buku ini di miliki oleh setiap para pelajar SMA yang ada di seluruh Indonesia.
Dalam bab ini menjelaskan tentang peranan sel dalam tubuh. Yang menunjang kelangsungan hidup suatu organisme. Sel tersusun atas bagian yang memiliki fungsinya masing – masing sehinga sel mampu bekerja di dalam tubuh  tanpa berhenti. Kecuali jika organisme tersebut meninggal maka sel tidak dapat nekerja dan berfugnsi kembali.
Jelas bahwa dalam bab ini, memberikan suatu gambaran.  Tentang betapa pentingnya peranan sel. Bagi kelangsungan hidup suatu organisme yang ada di bumi. 

matematika SD kelas IV ( Operasi Hitung Bilangan )

Operasi Hitung Bilangan
SD kelas 4 bab I
A.    Sifat – Sifat Operasi Hitung.
1.       Sifat pertukaran ( komutatif)
Dalam penjumlahan dan dan perkalian berlaku sifat komulatif atau pertukaran yaitu :
a + b = b + a
a x b = b + a
 



Dari rumus tersebut bisa kita lihat bahwa perkalian atau penjumlahan dengan suku yang dibalik itu tidak mengubah hasilnya. Sifat seperti ini lah yang disebut sifat komutatif atau pertukaran.
Contoh soal 1.1
a.       Apakah 1+3 hasilnya sama dengan 3+1?
b.      Apakah 4+6 hasilnya sama dengan 6+4?
c.       Apakah 7+6 hasilnya sama dengan 6+7?
Jawab.
a.       1 + 3 =4
Jadi , 1 + 3 = 3 + 1
3 + 1 = 4
b.      4 + 6 = 10
Jadi, 4 + 6 = 6 + 4
6 + 4 = 10
c.       7+6=13
Jadi, 7+6=6+7
6+7=13

                Contoh soal 1.2
a.       Apakah 4x2 hasilnya sama dengan 2x4?
b.      Apakah 5x7 hasilnya sam dengan 7x5?
c.       Apakah 1x9 hasilnya sama dengan 9x1?
Jawab.
a.       4 x 2 = 8
Jadi, 4 x 2 = 2 x 4
2 x 4 = 8
b.      5 x 7 = 35
Jadi, 5 x 7 = 7 x 5
7 x 5 = 35
c.       1 x 9 = 9
Jadi, 1 x 9 = 9 x 1
9 x 1 = 9

2.       Sifat Pengelompokan ( Asosiatif )
Sebelum mempelajari tentang sifat asosiatis sebaiknya kita kerjakan operasi penjumlahan dan perkalian tiga bilangan di bawah ini.
a.       4 + 6 + 8
b.      2 x 5 x 3
Nah dari soal tersebut mari kita coba hitung dari dua sisi, yaitu dari sisi kiri dan sisi kanan
a.       4 + 6 + 8
Menjumlahkan dari kiri :
4 + 6 + 8 = (4+6) +8 = 10 + 8 = 18
Menjumlahkan dari kanan :
4 +6 +8 = 4 + (6+8) = 4 + 14 = 18
Ternyata diperoleh hasil yang sama.
Jadi, (4+6) + 8 = 4 + (6+8)
b.      2 x 5 x 3
Mengalikan dari kiri
2 x 5 3 = (2x5)x3 =10 x3 = 30
Mengalikan dari kanan :
2 x 5 x 3 = 2 x (5x3) = 2  x 15 = 30
Ternyata diperoleh hasil yang sama.
Jadi, (2x5) x3 = 2 x (5 x 3)
                Nah, seperti itulah yang dinamakan sifat asosiatif. Dalam penjumlahan dan perkalian bilangan berlaku sifat pengelompokan atau sifat asosiatif, yaitu:
( a + b ) + c = a + (b + c)
( a x b ) x c = a x (b x c)
 



3.       Sifat penyebaran ( Distributif )
Agar mudah mempelajarinya mari kita coba untuk selesaikan soal cerita berikut ini.
Contoh
Ria dan Siska pergi ke pasar ikan mereka masing-masing  membeli  4 kilogram dan 5 kilogram. Setiap kilogram terdiri atas 5 ekor ikan berapa banyak ikan yang mereka beli?
Nah kita coba selesaikan soal tersebut dengan 2 cara.
Cara 1:
Banyaknya  ikan  yang dibeli Ria dan Siska adalah :
4 kilogram + 5 kilogram = 9 kilogram
Setiap kilogram ikan terdiri atas 5 ekor , maka banyaknya  ikan yang dibeli RIa dan Siska adalah :
(4+5) x 5 =9 x 5 = 45 ekor ikan
Cara 2:
Banyaknya ikan yang dibeli Ria     = 4 x 5 = 20 ekor
Banyaknya ikan yang dibeli Siska  = 5 x 5 = 25 ekor
                                                                                                    +
Banyaknya ikan yang dibeli Ria dan Siska= 45 ekor
jika ditulis dalam kalimat matematika menjadi :
  ( 4 x 5 ) + ( 5 x 5 ) = 20 + 25 = 45
Dari cara 1 dan cara 2 memperoleh hasil yang sama. Dan hasilnya dapat dituliskan :
                                                5 x ( 4 + 5 ) = ( 5 x 4 ) + ( 5 x 5 )
Seperti itulah yang dinamakan sifat distributif atau penyebaran. Dari contoh di atas, sifat ini berlaku pada gabungan operasi perkalian dan penjumlahan akan tetapi oprasi ini juga berlaku pada gabungan operasi hitung perkalian dan pengurangan.  Sehingga dapat kita tuliskan sifat penyebaran atau sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan dan perkalian terhadap pengurangan sebagai berikut.
a x (b + c) = (a x b) + (a x c)
a x (b – c) = (a x b) – (a x c)
 


                                                                                                                                                     
4.       Menggunakan Sifat-sifat Operasi Hitung
Dari pembahasan tentang operasi hitung tersebut sangatlah membantu untuk mempermudah
perhitungan operasi bilangan bulat.

Contoh
a.       216 + 300 = 300 + 216                                      (sifat komutatif)
    = 516
b.      (4 x 5) x 20 = 4 x (5 x 20)                                 (sifat asosiatif )
     = 4 x 100
     = 400
c.       (9 x 13) – (9 x 3) = 9 x (13 – 3)                      (sifat distributif)
= 9 x 10
= 90

d.      25  x 999 = 25 x (1.000 – 1)
  = (25 x 1.000) – (25 x 1)                (sifat distributif)
  = 25.000 – 25
  = 24.4975
e.      200 + 416 + 300 = 200 + 300 + 416               (sifat komutatif)
= (200 + 300) + 416           (sifat asosiatif)
= 500  + 416
= 916
                Dengan sifat komutatif bilangan 300 dapat di tukar tempatnya dengan bilangan 416. Kemudian bilangan 200 dan 300 dikelompokan. Sehingga penjumlahan lebih mudah dilakukan.

B.      Bilangan Ribuan
1.       Mengenal Bilangan Ribuan
Bilangan yang terdiri dari 4 angka disebut bilangan ribuan.  Nilai tempat dan nilai angka dari bilangan ribuan ditunjukan oleh contoh bilangan 1.234 berikut ini
Bilangan 1.234
Angka
Nilai Tempat
Nilai angka
1
Ribuan
1000
2
Ratusan
200
3
Puluhan
30
4
Satuan
4

Jadi bilangan 1.234 dibaca “seribu dua ratus tiga puluh empat” dan apabila dari kolom ketiga  table tersebut. Maka akan diperoleh penjumlahan sebagai berikut
1.234  =1.000 + 200 + 30 + 4
Bentuk penjumlahan dari nilai-nilai angka disebut bentuk panjang dari suatu bilangan.
2.       Membandingkan dan Mengurutkan bilangan
Untuk membandingkan dua bilangan, kita bandingkan masing- masing angka dari kedua bilangan yang mempunyai nilai tempat sama dimulai dari angka yang paling kiri.
Contoh:
Urutkan bilangan – bilangan 5.235, 6.981, 4.564
Jawab :
Dapat kita  bandingkan bahwa :
4.564  < 5.235 < 6.981
Jadi , urutan bilangan tersebut adalah 4.564, 5.235, 6.981

C.     Perkalian dan Pembagian Bilangan
1.       Melakukan Operasi perkalian
Contoh
Ema mempunyai 4 kaleng permen pemberian paman. Setelah dibuka satu kaleng ternyata berisi 21 permen. Menurut paman, semua kaleng isinya sam. Berapa banyak-nya permen ema pemberian paman?
Jawab
Banyaknya permen ema dapat kita cari dengan bilangan 4 x 21.
1.       Dengan definisi perkalian sebagai penjumlahan berulang maka bentuk perkaliannya adalah:
4 x 21 = 21 + 21 + 21 + 21 = 84
2.       Dengan perkalian langsung dapat kita tuliskan 4 x 21 = 21 x 4 ( sifat komutatif perkalian ).  Yang hasilnya adalah sama yaitu 84.
3.       Dengan perkalian bersusun dapat ditulis dengan
Cara 1 (cara susun pendek )                  cara 2 ( susun cara panjang )
2 1
   4
        x
   4
8 0
   +
8 4

  4
         x
8 4

 







                          Dari ketiga cara perkalian tersebut akan memperoleh hasil yang sama. Jadi, banyaknya permen Ema pemberian paman adalah 84 permen.
2.       Melakukan Operasi pembagian
Pembagian sebagai pengurangan yang berulang oleh pembagi terhadap bilangan yang dibagi. Pembagian dapat dibedakan menjadi 2 yaitu pembagian tanpa sisa dan pembagian bersisa.
Contoh :
20 : 4 = 4 ( pembagian tanpa sisa)
20 : 6 = 3 (sisa 2) ( pembagian bersisa)
Hasil dari pembagian tersebut kita bisa tuliskan sebagai berikut.
20 : 6 = 3 (sisa2) = 3
Bentuk tersebut dinamakan pecahan campuran.


D.    Operasi Hitung Campuran
Operasi hitung campuran apabila ada tanda kurung, maka operasi di dalamnya dikerjakan paling awal.
Operasi penjumlahan dan pengurangan adalah setingkat, urutan pengerjaannya dimulai dari kiri.
Contoh
1.       456 + 167 – 308 = (456 + 167) – 308
                               = 623 – 308
                               = 315
Operasi perkalian dan pembagian adalah setingkat urutan pengerjaannya mulai dari kiri.
contoh:
28 x 10 : 4 = (28 x 10) : 4
                     = 280 : 4
                     = 70
450 : 75 x 16 = (450 : 75) x 16
                         = 6 x 16
                         = 96
Apabila pada operasi hitung dan pembagian berasal dari penjumlahan dan penguranngan yang berulang, maka mempunyai tingkatan yang lebih tinggi. Sehingga operasi hitung perkalian dan pembagian harus di dahhulukan daripada penjumlahan dan pengurangan
Contoh
1.       187 + 33 : 3 = 187 + (33 : 3)
                       = 187 + 10
                       = 197
2.       190 – 5 x 4 = 190 – (5 x 4)
                     = 190 – 20
                     = 170

E.       Pembulatan dan Penaksiran  
1.       Pembulatan bilangan
a.       Pembulatan bilangan satuan terdekat. jika Angka dibelakang koma kurang dari 5 maka bilangan tersebut dihilangkan tetapi jika angka dibelakang koma lebih dari 5 maka bilangan dibulatkan ke atas ( datuan ditambah).
Contoh
1,8 lebih dekat ke bilangan satuan 2, maka 1,8 dibulatkan ke satuan terdekat menjadi 2
b.      Pembulatan bilangan puluhan terdekat. Jika angka satuan pada puluhan kuang dari 5 maka bilangan tersebut dibulatkan ke bawah ( dihilangkan ). Tetapi jika lebih dari lima  maka dibulatkan ke atas.
Contoh
 47 dibulatkan menjadi 50
62 dibulatkan menjadi 60
c.       Pembulatan bilangan ratusan
Contoh
175 dibulatkan menjadi 200
325 dibulatkan menjadi 300
2.       Menaksir Hasil Operasi Hitung Dua Bilangan.
Menaksir operasi hutung adalah memperkirakan hasil operasi hitung. Ada tiga macam taksiran hitung yaitu :

a.       Taksiran atas dilakukan dengan membulatkan ke atas bilangan – bilangan dalam operasi hitung
Contoh:
Tentukan hasil dari operasi hitung 22 x 58.
Jawab :
Karena taksiran atas, maka setiap bilangan dibulatkan ke atas.
22 dibulatkan ke atas menjadi 30
58 dibulatkan menjadi 60
Jadi, taksiran 22 x 58 adalah 30 x 60 = 1.800
b.      Taksiran bawah  dilakukan dengan membulatkan ke bawah bilangan-bilangan dalam operasi hitung.
Contoh :
Tentukan hasil taksiran bawah dari operasi hitung 22 x 58
Jawab :
Karena ini taksiran bawah, maka bilangan dibulatkan ke bawawh.
22 dibulatkan ke 20
58 dibulatkan ke 50
Jadi taksiran 22 x 58 adalah 20 x 50 = 1.000
c.       Taksiran Terbaik : dilakukan dengan membulatkan bilangan – bilangan dalam operasi hitung menurut aturan pembulatan.
Contoh :
Tentukan hasil taksiran terbaik operasi hitung 22 x 58
Jawab
22 menurut aturan pembulatan dibulatkan menjadi 20
58 menurut aturan pembulatan dibulatkan menjadi 60
Jadi, taksiran 22 x 58 adalah 20 x 60 = 1.200

F.     Menaksir Harga Kumpulan Barang
Bilangan yang menyatakan uang adalah bilangan bulat. Untuk melakukan penaksiran operasi hitung uang dalam satuan sampai ribuan atau lebih, dapat dilakukan pembulatan sampai ribuan terdekat. Dan penggunaan kira- kira, kurang lebih, dan perkiraan dapat berarti melakukan penaksiran
Contoh
Buku gambar   Rp1.675,00                                            Pensil                    Rp950.00
Buku tulis         Rp1.450,00                                             Penghapus         RP675.00
Bolpoin             Rp1.275,00                                              Rautan                  Rp750,00
Di koperasi sekolah dijual beragam barang kebutuhan sekolah seperti buku, pensil, bolpoin, dan penghapus. Daftar harga barangnya adalah sebagai berikut.




Jika Nia ingin membeli 2 buku tulis, 1 bolpoint, dan 1 penghapus, kira – kira berapa banyak uang yang harus dimiliki Nia?
Jawab
Dengan prinsip dasar pembulatan ke ratusan terdekat, dapat diperoleh pembulatan sebagai berikut :
Rp 1.450,00 dibulatkan menjadi Rp1.500,00
Rp1.275,00 dibulatkan menjadi Rp1.300,00
RP675,00    dibulatkan menjadi Rp700,00
Maka jumlah harganya adalah:
2 buku tulis `       2 x Rp1.500,00   = Rp3.000,00
1 bolpoin             1 x Rp1.300,00   = Rp1.300,00
1 penghapus      1 x Rp700,00       = Rp    700,00
                                                                                         +
jumlah                                                  = Rp5.000,00
Jadi Nia harus memiliki uang kurang lebih Rp5.000,00.

Rabu, 14 Desember 2011

Diskusi


Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut 
Macam-  macam Diskusi
1. Seminar
Pertemuan para pakar yang berusaha mendapatkan kata sepakat mengenai suatu hal.
2. Sarasehan/Simposium
Pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat prasaran para ahli mengenai suatu hal/masalah dalam bidang tertentu].
3. Lokakarya/Sanggar Kerja
Pertemuan yang membahas suatu karya[1].
4. Santiaji
Pertemuan yang diselenggarakan untuk memberikan pengarahan singkat menjalang pelaksanaan kegiatan[1].
5. Muktamar
Pertemuan para wakil organisasi mengambil keputusan mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama[1].
6. Konferensi
Pertemuan untuk berdiskusi mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama[1].
7. Diskusi Panel
Diskusi yang dilangsungkan oleh panelis dan disaksikan/dihadiri oleh beberapa pendengar, serta diatur oleh seorang moderator[1].
8. Diskusi Kelompok
Penyelesaian masalah dengan melibat kan kelompok-kelompok kecil[1].
9. Rapat
Rapat adalah pertemuan atau,  Kumpulan dalam suatu organisasi, perusahaan, instansi pemerintah baik dalam situasi formal maupun nonformal untuk membicarakan, merundingkan dan memutuskan suatu masalah berdasarkan hasil kesepakatan bersama.

KALIMAT EFEKTIF


a.                     Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.
b.                  Kalimat efektif syarat-syarat sebagai berikut:
1.                  Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2.                  Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
c.       Ciri-Ciri Kalimat Efektif :
1.               Kesepadanan.
Suatu kalimat efektif harus memenuhi unsur gramatikal yaitu unsur subjek (S), predikat (P), objek (O), keterangan (K). Di dalam kalimat efektif harus memiliki keseimbangan dalam pemakaian struktur bahasa.
Contoh:
Budi (S) pergi (P) ke kampus (KT).
Tidak Menjamakkan Subjek
Contoh:
Tomi pergi ke kampus, kemudian Tomi pergi ke perpustakaan (tidak efektif)
Tomi pergi ke kampus, kemudian ke perpustakaan (efektif)
2.                  Kecermatan Dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata.
Dalam membuat kalimat efektif jangan sampai menjadi kalimat yang ambigu (menimbulkan tafsiran ganda).
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah (ambigu dan tidak efektif).
Mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah (efektif).
3.                  Kehematan.
Kehematan dalam kalimat efektif maksudnya adalah hemat dalam mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Hal ini dikarenakan, penggunaan kata yang berlebih akan mengaburkan maksud kalimat. Untuk itu, ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan untuk dapat melakukan penghematan, yaitu:
a. Menghilangkan pengulangan subjek.
b. Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
c. Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
d. Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
Karena ia tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (tidak efektif)
Karena tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (efektif)
Dia sudah menunggumu sejak dari pagi. (tidak efektif)
Dia sudah menunggumu sejak pagi. (efektif)
4.                  Kelogisan.
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh:
Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini. (tidak efektif)
Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini. (efektif)
5.               Kesatuan atau Kepaduan.
Kesatuan atau kepaduan di sini maksudnya adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu, sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan kepaduan kalimat, yaitu:
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
c. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu. (tidak efektif)
Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang sudah meninggalkan rasa kemanusiaan. (efektif)
Makalah ini membahas tentang teknologi fiber optik. (tidak efektif)
Makalah ini membahas teknologi fiber optik. (efektif)
6.                  Keparalelan atau Kesajajaran.
Keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya harus menggunakan kata kerja berimbuhan me- juga.
Contoh:
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Harga sembako dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak efektif)
Harga sembako dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (efektif)
7.                  Ketegasan.
Ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan terhadap ide pokok dari kalimat. Untuk membentuk penekanan dalam suatu kalimat, ada beberapa cara, yaitu:
·                        Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contohnya :
Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini. (ketegasan).
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya. (ketegasan).
·                     Membuat urutan kata yang bertahap.
Contohnya :
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (salah).
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (benar).
·                     Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contohnya :
Cerita itu begitu menarik, cerita itu sangat mengharukan.
·                     Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contohnya :
Anak itu bodoh, tetapi pintar.
·                     Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), seperti: partikel –lah, -pun, dan –kah.
Contohnya :
Dapatkah mereka mengerti maksud perkataanku?
Dialah yang harus bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas ini.
d.     Pola Kesalahan yang Umum
1.  Penggunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat :
-                      Sejak dari usia delapan tauh ia telah ditinggalkan ayahnya.
(Sejak usia delapan tahun ia telah ditinggalkan ayahnya.
-                      Hal itu disebabkan karena perilakunya sendiri yang kurang menyenangkan.
(Hal itu disebabkan perilakunya sendiri yang kurang menyenangkan.
-                      Ayahku rajin bekerja agar supaya dapat mencukupi kebutuhan hidup.
(Ayahku rajin bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.)
-                      Pada era zaman  modern ini teknologi berkembang sangat pesat.
(Pada zaman modern ini teknologi berkembang sangat pesat.)
-                      Berbuat baik kepada orang lain adalah merupakan tindakan terpuji.
(Berbuat baik kepada orang lain merupakan tindakan terpuji.)
2.  Penggunaan kata berlebih yang ‘mengganggu’ struktur kalimat :
-                      Menurut berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan segera diubah.
(Berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan segera diubah. / Menurut berita yang saya dengar, kurikulum akan segera diubah.)
-                      Kepada yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal.
(Yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal.)

3.  Penggunaan imbuhan yang kacau :
-                      Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan.
(Yang meminjam buku di perpustakaan harap mengembalikan. / Buku yang dipinjam dari perpustakaan harap dikembalikan)
-                      Ia diperingati oleh kepala sekolah agar tidak mengulangi perbuatannya.
(Ia diperingatkan oleh kepala sekolah agar tidak mengulangi perbuatannya.
-                      Operasi yang dijalankan Reagan memberi dampak buruk.
(Oparasi yang dijalani Reagan berdampak buruk)
-                      Dalam pelajaran BI mengajarkan juga teori apresiasi puisi.
(Dalam pelajaran BI diajarkan juga teori apresiasi puisi. / Pelajaran BI mengajarkan juga apresiasi puisi.)
4.  Kalimat tak selesai :
-                      Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial yang selalu ingin berinteraksi.
(Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial, selalu ingin berinteraksi.)
-                      Rumah yang besar yang terbakar itu.
(Rumah yang besar itu terbakar.)
5.  Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku:
-                      Kita harus bisa merubah kebiasaan yang buruk.   
(Kita harus bisa mengubah kebiasaan yang buruk.)

Kata-kata lain yang sejenis dengan itu antara lain menyolok, menyuci, menyontoh, menyiptakan, menyintai, menyambuk, menyaplok, menyekik, menyampakkan, menyampuri, menyelupkan dan lain-lain, padahal seharusnya mencolok, mencuci, mencontoh, menciptakan, mencambuk, mencaplok, mencekik, mencampakkan, mencampuri, mencelupkan.                                 
-                      Pertemuan itu berhasil menelorkan ide-ide cemerlang.
(Pertemuan itu telah menelurkan ide-ide cemerlang.)
-                      Gereja itu dilola oleh para rohaniawan secara professional.
(Gereja itu dikelola oleh para rohaniwan secara professional.)
                -              tau               à  tahu                                          -   negri         à  negeri
                -              kepilih       à  terpilih                                       -   faham       à  paham
                -              ketinggal   à  tertinggal                                -   himbau     à  imbau
                -              gimana      à  bagaimana                             -   silahkan    à  silakan
                -              jaman         à  zaman                                      -   antri            à  antre
                -              trampil       à  terampil                  -   disyahkan à  disahkan
6.  Penggunaan tidak tepat kata ‘di mana’ dan ‘yang mana’ :
-                      Saya menyukainya di mana sifat-sifatnya sangat baik.
(Saya menyukainya karena sifat-sifatnya sangat baik.)
-                      Rumah sakit di mana orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih.
(Rumah sakit tempat orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih.)
-                      Manusia membutuhkan makanan yang mana makanan itu harus mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh.
(Manusia membutuhkan makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh.)
7.            Penggunaan kata ‘daripada’ yang tidak tepat :
-                      Seorang daripada pembatunya pulang ke kampung kemarin.
(Seorang di antara pembantunya pulang ke kampung kemarin.)
-                      Seorang pun tidak ada yang bisa menghindar daripada pengawasannya.
(Seorang pun tidak ada yang bisa menghindar dari pengawasannya.)
-                      Tendangan daripada Ricky Jakob berhasil mematahkan perlawanan musuh.
(Tendangan Ricky Jakob berhasil mematahkan perlawanan musuh.)

8.    Pilihan kata yang tidak tepat :
-                      Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan waktu untuk berbincang bincang dengan masyarakat.
(Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan masyarakat.)
-                      Bukunya ada di saya.
(Bukunya ada pada saya.)
9.       Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti :
-                      Usul ini merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan untuk memulai pembicaraan damai antara komunis dan pemerintah yang gagal.
Kalimat di atas dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa yang gagal? Pemerintahkah atau pembicaraan damai yang pernah dilakukan?
(Usul ini merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan untuk memulai kembali pembicaraan damai yang gagal antara pihak komunis dan pihak pemerintah.
-                      Sopir Bus Santosa yang Masuk Jurang Melarikan Diri
Judul berita di atas dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa yang dimaksud Santosa? Nama sopir atau nama bus? Yang masuk jurang busnya atau sopirnya?
                (Bus Santoso Masuk Jurang, Sopirnya Melarikan Diri)
10.     Pengulangan kata yang tidak perlu :
-                      Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku setahun.
(Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku.)
-                      Film ini menceritakan perseteruan antara dua kelompok yang saling menjatuhkan, yaitu perseteruan antara kelompok Tang Peng Liang dan kelompok Khong Guan yang saling menjatuhkan.
(Film ini menceritakan perseteruan antara kelompok Tan Peng Liang dan kelompok Khong Guan yang saling menjatuhkan.)
11.Kata ‘kalau’ yang dipakai secara salah :
-                      Dokter itu mengatakan kalau penyakit AIDS sangat berbahaya.
(Dokter itu mengatakan bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya.)
-                      Siapa yang dapat memastikan kalau kehidupan anak pasti lebih baik daripada orang tuanya? 
(Siapa yang dapat memastikan bahwa kehidupan anak pasti lebih baik daripada orang tuanya?)







Referensi           



                                                                                                                                         Kelompok 7
                                                                                                                                         1. Ima Ningsih (110641324)
                                                                                                                                         2. Kuni Yuliyanti (110641328)
                                                                                                                                         3. Kurniyawati (110641352)
                                                                                                                                         4. Rida Riyanti (110641351)
                                                                                                                                         5. Venny Handayani (110641336)
                                                                                                                                         Kelas : A9
                                                                                                                                         Fak/Prodi : FKIP S1 PGSD