Selasa, 09 Desember 2014

CANTIK

siapa yang gak kenal kata CANTIK??
jawabannya adalah NOTHING...
that's right..
kata cantik selalu identik dikaitkan dengan sosok makhluk tuhan yang bernama wanita..
now, I'll tell you little things about CANTIK.. off course.. semua wanita menurutku itu cantik.. namun ada benarnya juga jika ada yang beranggapan cantik is relative things, tergantung siapa yang memandang...
namun seseorang itu akan terlihat kecantikannya ketika dia merasa PD dan mampu menerima keadaan yang ada pada dirinya sendiri. baik kekurangannya maupun kelebihan yang dimilikinya. serta bersyukur, tanpa harus melakukan oprasi permak maupun servise guuyss (kaya clana jeans hihiihii). dan lw lloe melakukan permak service begitu-begituan itu artinya loe kurang bersyukur... dan belum bisa menerima diri sendiri seutuhnya guuyyss.. ...

karena pada dasarnya bawaan dari lahir merupakansuatu anugrah pemberian dari tuhan kita guyys yang sudah dirancang sedemikian rupa.. dan ciptaannya jauh lebih sempurna.. dari pada oprasi vermak service dan hal aneh2 lainnya guuyys...

Did you know?
If you want to oprasi de el el.. loe musti pikir2 lagi guys sebelum menyesal.. karena setiap tindakan pasti punya resiko guuys... well, who people cange her face and look like a monster?? pasti elu-elu pade udah tau kan.. tinggal searching langsung dapet siapa orang-orang yang korban gagal oprasi plastik dan berubah seperti monster kan? alih-alih ingin wajah cantik dengan jalan pintas jadi malah ancur tuuhh.. lalu siapa yang rugi lw bukan diri sendiri..

so, If you want feel CANTIK do what I expalin you about the definition of CANTIK because CANTIK is in your self and your mind...

Senin, 01 Desember 2014

Kognisi Sosial



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam kegiatan sehari-hari. Kita, tidak pernah terlepas dari sebuah tindakan baik itu tindakan yang bersifat rasional maupun irasional. Yang sama-sama dituntun oleh pemikirannya apa yang diyakini dan apa yang diantisipasinya.
Bagaimanapun anehnya Bagaimanapun anehnya perilaku manusia, suku, atau bangsa, perilaku mereka membawa makna sendiri bagi mereka. Serta berupaya membentuk dunianya sendiri yang bermakna bagi dirinya, dan di dalam dunia tersebut ia mengklasifikasikan dan menyusun objek-objek yang banyak sekali, dan orang lain termasuk diantara objek-objek tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sir Frederick Bartlett “ reaksi kognitif manusia yakni reaksi dalam persepsi, imajinasi, berfikir, dan pertimbangan akal sehat cocok bila dibahas sebagai suatu upaya yang terjadi sesudah timbulnya maksud.”

B.     Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah didalam pembahasan makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian kognisi sosial?
2.      Apa teori-teori kognisi sosial ?
3.      Bagaimana konsep kognisi sosial?
4.      Bagaimana komponen kognisi sosial?

C.     Tujuan
Adapun tujuan yang ingin diketahui dalam pembahasan makalah ini adalah:
1.      Pengertian kognisi sosial.
2.      Teori kognisi sosial.
3.      Konsep kognisi sosial.
4.      Komponen kognisi sosial.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kognisi Sosial
Menurut scheerer kognisi adalah proses sentral yang menghubungkan peristiwa-peristiwa diluar (external) dan didalam (internal) diri sendiri.
Menurut festinger kognisi adalah elemen-elemen kognitif, yaitu hal-hal yang diketahui oleh seseorang tentang dirinya sendiri, tentang tingkah lakunya, dan tentang keadaan disekitarnya.
Menurut Neisser kognisis adalah proses yang merubah, mereduksi, memperinci, menyimpan, mengungkapkan dan memakai setiap masukan (input) yang datang dari alat indera.
Menurut Baron & Byrne kognisi social adalah cara individu untuk menganalisa, mengingat dan menggunakan informasi mengenai kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa social.
Dalam menganalisa peristiwa terdapat tiga proses yaitu ;
1.      Attention : proses pertama kali dimana individu memperhatikan gejala-gejala sosial yang ada disekelilingnya
2.      Enconding : memasukkan apa yang diperhatikan kedalam memori dan menyimpannya
3.      Retrieval : apabila kita menemukan gejala yang mirip, kita akan mengeluarkan ingatan kita  dan membandingkan, apabila ternyata sama maka kita akan mengatakan sesuatu mengenai gejala tersebut atau mengeluarkannya disaat akan menceritakan peristiwa yang dialami.
Kognisi adalah respon atau reaksi individu terhadap manusia dan benda yang terbentuk oleh bagaimana cara individu tersebut memandang keduanya (dunia kognitifnya). Dan kesan tersebut mengenai dunia setiap individu merupakan dunia yang bersifat individual. Dua orang yang berbeda tidak mungkin hidup dalam dunia kognitif yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa kognisi sosial adalah adalah proses berfikir yang dilakukan seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain.(kognisi adalah pengetahuan dan kesadaran) atau tata cara dimana kita menginterpretasi, menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia social. Dan kognisi social terjadi secara otomatis. Dalam kognisi social, memahami dunia sosial misalnya seperti upaya untuk menjelaskan orang yang baru saja bertemu, upaya untuk menjelaskan diri sendiri, dan proses berfikir dalam kognisi social mencakup bagaimana individu tersebut melakukan interpretasi (penafsiran), menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia social yang dialaminya.

B.     Teori Kognisi Sosial
Apabila seseorang harus memilih perilaku mana yang mesti dilakukan, maka yang bersangkutan akan memilih alternative perilaku yang akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya. Atau biasa disebut subjective expected utility (Fishbein dan Ajzen). Dengan kemampuan memilih ini berarti factor berfikir berperan dalam menentukan pemilihannya. Dengan kemampuan berfikir seseorang akan dapat melihat apa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangan disamping melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam seseorang bertindak. Dalam teori kognitif ini, proses kognitif menjadi dasar timbulnya prasangka. Hal ini berkaitan dengan :
1.      Kategorisasi atau penggolongan
Ketika seseorang mempersepsi orang lain atau kelompok mempersepsi kelompok. Dan memasukkan itu ke dalam suatu kategori sekse, umur, pekerjaan, pembedaan warna kulit, dll. Dan hal ini menimbulkan prasangka antara pihak satu dengan yang lain.
2.      Ingroup lawan outgroup
Orang yang berada dalam satu kelompok merasa (ingroup) dan orang yang merasa dari kelompok lain (outgroup) dan hal ini akan menimbulkan beberapa dampak, antara lain : anggota ingroup lebih anggota lain lebih punya kesamaan disbanding outgroup, ingroup lebih terfaforit daripada outgroup, ingroup memandang outgroup lebih homogen daripada ingroup baik kepribadian atau yang lain:
a.       Teori Rosenberg
Dikenal dengan teori affective cognitive consistency, atau terkadang disebut teori dua faktor. Rosenberg (second & backman:1964) memusatkan perhatian pada kognitif dan afektif. Pengertian kognitif tidak hanya mencakup pengetahuan, melainkan kepercayaan antara sikap dengan sistem yang ada dalam diri individu. Sedang afektif berhubungan dengan perasaan yang timbul pada seseorang yang menyertai sikapnya, dapat positif ataupun negativ terhadap obyek tertentu.
b.      Teori festinger
Dikenal dengan teori disonansi kognitif. Sikap individu itu biasanya konsisten satu dengan yang lain. Misal: ia berpendapat bahwa pendidikan itu baik, maka mereka mengirim anaknya ke sekolah,  menurut teori ini, elemen kognitif meliputi pengetahuan, pandangan/perbuatan, dan kepercayaan tentang lingkungan.
c.       Teori P-O-X
Teori Heider adalah berpangkal pada perasaan yang ada pada seseorang (P), terhadap orang lain (O), dan hal lain (X) dalam hal ini tidak hanya benda mati tetapi bisa berupa orang lain. Dan ketiga hal tersebut membentuk kesatuan.
d.      Teori A-B-X
Teori Newcomb (1937-1957) bahwa ada hukum-hukum yang mengatur hubungan antara kepercayaan dan sikap yang ada pada seseorang. Dan Newcomb menambahkan faktor komunikasi antar individu dan hubungan dalam kelompok.
e.       Prinsip keselarasan
Teori Osgood dan Tannenbaum (1955) mengenai perubahan sikap dalam suatu situasi tertentu. Melalui komunikasi mendesak seseorang untuk mengambil sikap tertentu terhadap suatu objek.


C.    Konsep Kognisi Sosial
Konsep utama dari teori kognisi sosial adalah pengertian tentang obvervational learning atau proses belajar dengan mengamati. Jika ada seorang "model" didalam lingkungan seorang individu, misalnya saja teman atau anggota keluarga didalam lingkungan internal, atau di lingkungan publik seperti para tokoh publik dibidang berita dan hiburan, proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara memperhatikan model tersebut. Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena proses modeling. Modeling atau peniruan merupakan "the direct, mechanical reproduction of behavior, reproduksi perilaku yang langsung dan mekanis (Baran & Davis). Sebagai contoh, ketika seorang ibu mengajarkan anaknya bagaimana cara mengikat sepatu dengan memeragakannya berulang kali sehingga si anak bisa mengikat tali sepatunya, maka proses ini disebut proses modeling. Sebagai tambahan bagi proses peniruan interpersonal, proses modeling dapat juga terlihat pada narasumber yang ditampilkan oleh media. Misalnya orang bisa meniru bagaimana cara memasak kue bika dalam sebuah acara kuliner di televisi. Meski demikian tidak semua narasumber dapat memengaruhi khalayak, meski contoh yang ditampilkan lebih mudah dari bagaimana cara membuat kue bika. Di dalam kasus ini, teori kognitif sosial kembali ke konsep dasar "rewards and punishments" imbalan dan hukuman tetapi menempatkannya dalam konteks belajar sosial.
Baranowski, Perry, dan Parcel (1997) menyatakan bahwa "reinforcement is the primary construct in the operant form of learning" proses penguatan merupakan bentuk utama dari cara belajar seseorang. Proses penguatan juga merupakan konsep sentral dari proses belajar sosial. Didalam teori kognitif sosial, penguatan bekerja melalui proses efek menghalangi (inhibitory effects) dan efek membiarkan (disinhibitory effects). Inhibitory Effects terjadi ketika seseorang melihat seorang model yang diberi hukuman karena perilaku tertentu, misalnya penangkapan dan vonis hukuman terhadap seorang artis penyanyi terkenal karena terlibat dalam pembuatan video porno. Dengan mengamati apa yang dialami model tadi, akan mengurangi kemungkinan orang tersebut mengikuti apa yang dilakukan sang artis penyanyi terkenal itu. Sebaliknya, Disinhibitory effects terjadi ketika seseorang melihat seorang model yang diberi penghargaan atau imbalan untuk suatu perilaku tertentu. Misalnya disebuah tayangan kontes adu bakat disebuah televisi ditampilkan sekelompok pengamen jalanan yang bisa memenangi hadiah ratusan juta rupiah, serta ditawari menjadi model iklan dan bermain dalam sinetron karena mengkuti lomba tersebut. Menurut teori ini, orang juga akan mencoba mengikuti jejak sang pengamen jalanan.
Efek-efek yang dikemukakan diatas tidak tergantung pada imbalan dan hukuman yang sebenarnya, tetapi dari penguatan atas apa yang dialami orang lain tapi dirasakan seseorang sebagai pengalamannya sendiri (vicarious reinforcement). Menurut Bandura (1986), vicarious reinforcement terjadi karena adanya konsep pengharapan hasil (outcome expectations) dan harapan hasil (outcome expectancies). Outcome expectations menunjukkan bahwa ketika kita melihat seorang model diberi penghargaan dan dihukum, kita akan berharap mendapatkan hasil yang sama jika kita melakukan perilaku yang sama dengan model.
Teori kognitif sosial juga mempertimbangkan pentingnya kemampuan sang "pengamat" untuk menampilkan sebuah perilaku khusus dan kepercayaan yang dipunyainya untuk menampilkan perilaku trsebut. Kepercayaan ini disebut dengan self-efficacy atau efikasi diri (Bandura, 1977) dan hal ini dipandang sebagai sebuah prasayarat kritis dari perubahan perilaku. Misalnya dalam kasus tayangan tentang cara pembuatan kue bika di televisi yang telah disebutkan di atas. Teori kognitif sosial menyatakan bahwa tak semua orang akan belajar membuat kue bika, khususnya bagi mereka yang terbiasa membeli kue siap saji dan mempunyai keyakinan bahwa membuat kue bika sendiri merupakan hal yang sia-sia dan tak perlu karena membelinya pun tidak mahal harganya. Dalam hal ini orang tersebut dianggap tidak mempunyai tingkat efikasi diri yang cukup untuk belajar memasak kue dari televisi.

D.    Komponen Kognisi Sosial
1.      Skema
Adalah kerangka mental yang berpusat pada tema-tema spesifik yang dapat membantu kita mengorganisasi informasi sosial dan menuntun pemrosesannya.  Dalam otak kita, skema itu seperti skenario, yang memiliki alur. Dan skema terbentuk berdasar kepada pengalaman yang pernah dialami atau cerita dari orang lain. Contoh: skema tentang tempat makan cepat saji (McD, Kfc, dll) membuat kita tahu bagaimana cara untuk makan di tempat tersebut. Sehingga ketika datang ke tempat tersebut, kita akan langsung ke kasir untuk memesan makanan.
Pada dasarnya skema akan mempengaruhi sikap dalam melakukan sesuatu. Dan dalam skema memiliki sisi negative, karena skema mempengaruhi apa yang kita perhatikan, apa yang masuk dalam ingatan kita, dan apa yang kita ingat. Skema memainkan peran penting dalam membentuk prasangka dan pembentukan satu komponen dasar  tentang kelompok tertentu. Skema akan sulit diubah (efek bertahan). Dan kadang pula skema memberikan efek pemenuhan harapan diri yaitu membuat dunia sosial yang dialami menjadi konsisten. Contoh: ketika kita gagal, kita akan berusaha menghibur diri dengan berkata “ kamu hebat kok, ini karena pertandingan yang tidak adil” (efek bertahan).
2.      Heuristik
Adalah aturan sederhana dalam membuat keputusan yang kompleks atau menyusun kesimpulan dalam waktu cepat dan seakan tanpa usaha yang berarti. Heuristic ada 2 macam:
a.       Heuristik keterwakilan: sebuah strategi untuk membuat penilaian berdasarkan pada sejauh mana stimulasi atau peristiwa tersebut mempunyai kemiripan dengan stimulasi atau kategori yang lain. Contoh: kita mengenal seorang wanita sebagai pribadi yang teratur, ramah, rapi, dan mempunyai perpustakaan di rumah. Tetapi kita tidak mengetahui pekerjaan dari wanita ini. dan kita langsung menyimpulkan bahwa wanita ini adalah seorang pustakawati. Dengan kata lain, kita menilai berdasar semakin mirip seseorang dengan iri-iri khas orang-orang dari suatu kelompok tertentu, semakin mungkin orang tesebut adalah bagian dari kelomok itu.
b.      Heuristik ketersediaan: strategi untuk membuat keputusan berdasar seberapa mudah suatu informasi yang spesifik dapat dimunculkan dalam benak kita. Contoh : banyak orang merasa lebih takut tewas dalam keelakaan pesawat didarat. Hal ini karena fakta bahwa kecelakaan pesawat jauh lebih dramatis dan menyedot lebih banyak perhatian media.akibatnya kecelakaan pesawat jauh lebih mudah terpikir sehingga berpengaruh lebih kuat dalam penilaian individu.
3.      Kesalahan dalam kognisi sosial
a.       Bias negativitas
Yaitu kecenderungan memberikan perhatian lebih pada informasi yang negativ. Dibandingkan dengan informasi positif, satu saja informasi negativ akan memiliki pengaruh yang lebih kuat. Contoh: kita diberitahu bahwa dosen yang akan mengajar nanti adalah orang yang pandai, masih muda, ramah, baik hati, cantik, namun diduga terlibat skandal seks. Bias negativ menyebabkan kita justru terpaku pada hal yang negativ dan mengabaikan hal positif.
b.      Bias optimistik
Yaitu suatu predisposisi untuk mengharapkan agar segala sesuatu dapat berakhir baik. Contoh: pemerintah sering kali mengumumkan rencana yang terlalu optimis mengenai proyek-proyek besar, jalan, bandara,. Dan hal ini menyebabkan kesalahan perencanaan. Namun, ketika individu memperkirakan akan menerima umpan balik atau informasi yang mungkin negativ dan memiliki konsekuensi penting, tampak ia justru bersiap menghadapi hal yang buruk dan menunjukkan kebalikan dari pola optimistik  mereka menjadi pesimis.
c.       Pemikiran konterfatual
Yaitu memikirkan sesuatu yang berlawanan dari keadaan sekarang. Efek dari memikirkan “ apa yang terjadi seandainya…..”. contoh: ketika selamat dari kecelakaan pesawat, seseorang justru memikirkan bagaimana nasib keluarga saya sepeninggalan saya ? dan pemikiran ini dapat secara kuat berpengaruh terhadap afeksi kita.
d.      Pemikiran magis
Yaitu berfikir dengan melibatkan asumsi yang tidak didasari alasan yang rasional. Contoh: supaya lulus ujian, seseorang akan berdo’a terus-menerus dan memakai banyak cincin.
e.       Menekan fikiran
Yaitu usaha untuk menegah fikiran-fikiran tertentu memasuki kesadaran. Proses ini melibatkan dua komponen yaitu: proses pemantauan yang otomatis yang menari tanda-tanda adanya pemikiran yang tidak diinginkan yang memaksa untuk munul kealam kesadaran. Ketika fikiran tersebut terdeteksi, proses kedua akan terjadi, yaitu menegah agar fikiran tersebut tetap berada di luar kesadaran tanpa menggangu fikiran yang lain. Contoh: seseorang yang ikut program diet menekan fikirannya akan makanan-makanan yang manis.
4.      Afek dan Kognisi
Bahwa perasaan membentuk atau mempengaruhi fikiran dan fikiran akan membentuk perasaan. Begitu pula dengan perasaan dan suasana hati, memiliki pengaruh yang kuat terhadap beberapa aspek kognisi ataupun sebaliknya. Suasana hati saat ini dapat seara kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap rangsang yang pertama kali kita temui. Contoh: ketika suasana hati sedang bergembira, dan berkenalan dengan orang lain, penilaian kita terhadap orang tersebut akan lebih baik disbanding ketika kita berkenalan dengan suasana hati yang sedang bersedih. Kognisi juga dapat mempengaruhi afeksi. Seperti yang dijelaskan dalam teori dua fator (Schater : 1964) yang menjelaskan bahwa kita sering tidak mengetahui perasaan atau sikap kita sendiri. Sehingga kita menyimpulkannya dari lingkungan. Dari situasi dimana kita mengalami reaksi internal ini. contoh: ketika kita mengalami perasaan tertentu atas kehadiran seseorang yang menarik, kita menyimpulkan bahwa kita sedang jatuh cinta. Selain itu, kognisi bisa mempengaruhi emosi melalui aktivitas skema yang di dalamnya terdapat komponen afektif yang kuat. Selain itu, fikiran bisa mempengaruhi afeksi yang melibatkan kita dalam mengatur emosi kita.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
kognisi sosial adalah proses berfikir yang dilakukan seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain. (kognisi adalah pengetahuan dan kesadaran) atau tata cara dimana kita menginterpretasi, menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia sosial. dalam teori kognisi sosial ini memiliki sebuah konsep yaitu proses belajar dengan mengamati. Dimana memiliki komponen yang saling berkaitan didalamnya.

B.     Saran
Dengan mempelajari makalah kognisi sosial ini. Hendaknya kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. khususnya  untuk lebih mengenal diri sendiri dan orang lain.



Permasalahan Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya, banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan.
Pemahaman terhadap pemikiran-pemikiran penting dalam pendidikan akan membekali tenaga kependidikan dengan wawasan kesejarahan, yakni kemampuan memahami kaitan antara pengalaman-pengalaman masa lampau, tuntutan dan kebutuhan masa kini, serta perkiraan atau antisipasi masa datang.
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya.

B.      Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian aliran-aliran pendidikan ?
2.    Apa saja macam-macam aliran pendidikan ?
3.    Bagaimana aliran-aliran Pendidikan menurut para ahli ?
4.    Bagaimana aliran pendidikan modern diindonesia ?

C.      Tujuan Masalah
1.    Untuk mengetahui pengertian aliran-aliran pendidikan.
2.    Untuk mengetahui macam-macam aliran pendidikan.
3.    Untuk mengetaui aliran-aliran pendidikan menurut para ahli.
4.    Untuk mengetahui aliran pendidikan modern diindonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

A.        ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN 
1.         Pengertian Aliran-Aliran Pendidikan
Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan, yakni pemikiran-pemikirn terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul pemikiran yang baru, dan demikian seterusnya. Agar diskusi berkepanjangan itu dapat dipahami, perlu aspek dari aliran-alira itu yang harus dipahami. Oleh karena itu setiap calon tenaga kependidikan harus memahami berbagai jenis aturan-aturan pendidikan. Dalam dunia pendidikan setidaknya terdapat 3 macam aliran pendidikan, yaitu aliaran klasik, aliran modern dan aliran pendidikan pokok di Indonesia.
2.         Aliran-Aliran Klasik dalam Pendidikan
Menurut Tim dosen 2006, aliran-aliran klasik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
a.      Aliran Empirisme
Aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung (Joseph, 2006).
Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.
John Locke (dalam Joseph: 2006) tak ada sesuatu dalam jiwa yang sebelumnya tak ada dalam indera. Ini berarti apa yang terjadi, apa yang mempegaruhi apa yang membentuk perkembangan jiwa anak didik adalah lingkungan melalui pintu gerbang inderanya yang berarti tidak ada yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa melalui proses penginderaan.
b.      Aliran Nativisme.
Teori ini merupakan kebalikan dari teori empirisme, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan anak hanya ditentukan oleh pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi baik. Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.
c.       Aliran Konvergensi.
Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaiman teori nativisme teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembaeaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.
William Stern (dalam Tim Dosen 2006: 79) mengatakan bahwa perkembangan anak tergantung dari pembawaan dari lingkugan yang keduanya merupakan sebagaiman dua garis yang bertemu atau menuju pada satu titik yang disebut konvergensi.
Dari beberapa uraian diatas, teori yang cocok dapat diterima sesuai dengan kenyataan adalah teori konvergensi, yang tidak mengekstrimkan faktor pembawaan, faktor lingkungann atau alamiah yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak, melainkan semuanya dari faktor-faktor tersebut mempengaruhi terhadap perkembangan anak.
d.      Aliran Naturalisme.
Aliran ini mempunyai kesamaan dengan teori nativisme bahkan kadang-kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri baik bakat minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan-pembawaan lainya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan alami, bukan lingkungna yang dibuat-buat. Dengan kata lain jika pendidikan diartikan sebagai usahan sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kea rah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadapperkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan anak berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuat-buat (alami) makan pendidikan yang dimaksud terakhir ini betrpengaruh positif terhadap perkembangan anak.

C.  Aliran pendidikan moderen di Indonesia
Menurut Mudyahardjo macam-macam aliran pendidikan modern di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.         Progresivisme
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).
a.      Tujuan pendidikan dalam aliran ini adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak.
b.      Kurikulum pendidikan Progresivisme adalah kurikulum yang berisi pengalaman-pengalaman atau kegiatan-kegiatan belajar yang diminati oleh setiap peserta didik (experience curriculum).
c.       Metode pendidikan Progresivisme antara lain:
  1. Metode belajar aktif.
  2. Metode memonitor kegiatan belajar.
  3. Metode penelitian ilmiah
d.      Pendidikan berpusat pada anak.
Pendidikan Progresivisme menganut prinsip pendidikan berpusat pada anak. Anak merupakan pusat adari keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan. Pendidikan Progresivisme sangat memuliakan harkat dan martabat anak dalam pendidikan. Anak bukanlah orang dewasa dalam betuk kecil. Anak adalah anak, yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Setiap anak mempunyai individualitas sendiri-sendiri, anak mempunyai alur pemikiran sendiri, anak mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan sendiri, yang berbeda dengan orang dewasa. Dengan demikian, anak harus diperlakukan berbeda dari orang dewasa.

2.         Esensialisme
Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam nilai budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.
a.       Tujuan pendidikan dari aliran ini adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adlah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh ketrampilan. Ketrampilan, sikap-sikap dan nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah pendidikan Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan.
b.      Metode pendidikan:
  1. Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered).
  2. Peserta didik dipaksa untuk belajar.
  3. Latihan mental
c.       Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok. Kurikulum sekolah dasar ditekankan pada pengembangan ketrampilan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika.Sedangkan kurikulum pada sekolah menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, serta bahasa dan sastra.


3.         Rekonstruksionalisme
Rekonstruksionalisme memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di masyarakat.
a.      Tujuan pendidikan
Sekolah-sekolah rekonstruksionis berfungsi sebagai lembaga utama untuk melakukan perubahan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat. Tujuan pendidikan rekonstruksionis adalah membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala global, dan mengajarkan kepada mereka keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
b.      Kurikulum dalam pendidikan rekonstruksionalisme berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum banyak berisi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat manusia. Yng termasuk di dalamnya masalah-masalah pribadi para peserta didik sendiri, dan program-program perbaikan yang ditentukan secara ilmiah.
4.         Parennialisme
Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut perennialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi dengan berpikir, maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami faktor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya.
a.      Tujuan pendidikan
Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, telah banyak memberikan sumbangan kepada perkembangan zaman dulu.
b.      Kurikulum berpusat pada mata pelajaran dan cenderung menitikberatkan pada sastra, matematika, bahasa dan sejarah.
5.         Idealisme
Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.
Para murid yang menikmati pendidikan di masa aliran idealisme sedang gencar-gencarnya diajarkan, memperoleh pendidikan dengan mendapatkan pendekatan (approach) secara khusus. Sebab, pendekatan dipandang sebagai cara yang sangat penting. Para guru tidak boleh berhenti hanya di tengah pengkelasan murid, atau tidak mengawasi satu persatu muridnya atau tingkah lakunya. Seorang guru mesti masuk ke dalam pemikiran terdalam dari anak didik, sehingga kalau perlu ia berkumpul hidup bersama para anak didik. Guru jangan hanya membaca beberapa kali spontanitas anak yang muncul atau sekadar ledakan kecil yang tidak banyak bermakna.
Pola pendidikan yang diajarkan fisafat idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat dari anak, atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat, melainkan berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikan menurut paham idealisme terbagai atas tiga hal, tujuan untuk individual, tujuan untuk masyarakat, dan campuran antara keduanya.
a.      Tujuan Pendidikan
Agar anak didik bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis dan penuh warna, hidup bahagia, mampu menahan berbagai tekanan hidup, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan sesama manusia. Karena dalam spirit persaudaraan terkandung suatu pendekatan seseorang kepada yang lain. Seseorang tidak sekadar menuntuk hak pribadinya, namun hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya terbingkai dalam hubungan kemanusiaan yang saling penuh pengertian dan rasa saling menyayangi.
b.      Kurikulum
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran idealisme harus lebih memfokuskan pada isi yang objektif. Pengalaman haruslah lebih banyak daripada pengajaran yang textbook. Agar supaya pengetahuan dan pengalamannya senantiasa aktual.